Minggu, 23 Juni 2013

FF Princess Moon Shoot 2 - Part 1

Tittle          :         Princess Moon
Genre        :         Fantasy, sad
Rating       :         13+
Leght         :         Two shoot
Cast           :  -      Sora a.k.a Luna
                                                                     -       Ryu
                                                                     -       Sena
                      -       Kyu
Disclamer :          FF ini aku persembahkan buat temenku, Mia Soraya.         Ini adalah realisasi dari mimpinya  bersama orang yg udah jd bagian dari masa laluku. Semoga suka ya ;)


^^Happy Reading^^








Semilir angin yang berhembus, membawa hawa dingin yang menyelimuti tubuh. Setiap lima detik, satu per satu daun mulai berguguran, memberi kehidupan baru bagi tanah. Daun-daun baru yang mulai tumbuh menandakan musim telah berganti”

10 Tahun kemudian…

Sora POV

“Kyaaaaa!!!!”, teriakku saat melihat wajahku di dalam cermin. Astaga! Kenapa harus dengan penampilan seperti ini? Rambut yang kusut, kulit yang kasar, dan baju yang lusuh. Ini tidak sama dengan diriku. Keterlaluan! Ini gara-gara ayah!!!

*Flash back*

“Luna! Cepat kemari!” 

Dengan cepat aku berlari menemui ayahku.

“Ada apa ayah? Ha! Aku tahu, ayah pasti ingin memberiku hadiah, iya kan?”
“Ah! Kau ini! Sudah besar  tapi masih saja seperti anak kecil. Baiklah, ayah akan memberimu hadiah tapi jika kau bisa menyelesaikan misi yang satu ini”
“Apa? Misi? Harus sesulit itukah?”
“Anak kecil! Untuk itulah, kau harus merubah sikapmu!”, kata ayah sambil mengetuk kepalaku.
“Aiss.. Sakit.. Baiklah, misi apa ayah?”
“Ehm… Luna, kau tahu jika sekarang ayah sudah tua kan?”
“mmm..”, jawabku sambil mengangguk.
“Kau tahu jika kau adalah anak ayah satu-satunya kan?”

Aku terdiam sejenak. Pasti ayah akan membahas mengenai takhta kerajaan.

“Hmm.. Aku paham. Pasti ayah akan membahas tentang calon penerus ayah kan?”
“Benar.. Hadiah yang akan ayah berikan adalah memberikan takhta padamu sebagai calon penguasa di negeri bulan ini”
“A-apa? Haruskah membahasnya sekarang? Lagi pula ayah belum meninggal kan?”
“Aiss.. Kau ini! Tentu saja! Sebelum ayah meninggal, ayah harus membahas soal ini denganmu. Jadi, berhentilah bermain-main dan jadilah dewasa mulai sekarang!”, tegas ayah.
“Tapi ayah.. Bukankah pendewasaan itu akan berjalan seiring dengan waktu?”
“Benar. Tapi, bagaimana bisa jika tanpa usaha?”

Aku berpikir sejenak. Yang dikatakan ayah ada benarnya juga.

“Aiss.. Sudahlah Luna! Apa ayah harus terus memanggilmu anak kecil hah?” kata ayah sambil mengetuk kepalaku lagi.
“Cukup!Jangan panggil aku anak keil lagi! Baiklah, aku akan tunjukkan bahwa aku bisa menjadi dewasa dengan usahaku sendiri!”
“Hmm.. Baiklah.. Apa kau bisa menepati janjimu pada ayah?”, Tanya ayah berusaha meyakinkan.
“ Tt-tentu saja”, jawabku sambil mengerucutkan bibirku.
“Berarti, kau bisa menyelesaikan misi ini kan?”
“Hmm.. Baiklah.. Sebenarnya apa yang ayah inginkan?”
“Aku ingin kau mencari kehidupan barumu di bumi. Selama di bumi, kau harus merahasiakan identitasmu yang sebenarnya. Ayah akan merubah penampilanmu. Kau akan hidup mandiri dengan meninggalkan semua kemegahan disini. Kelak, penampilanmu akan berubah seiring dengan perubahan sikapmu. Tapi, kau harus menjauhi dua larangan yang akan kau cari sendiri di bumi nanti. Ingat, ketika kau terperangkap ke dalam larangan-larangan itu maka kau akan kehilangan semua kekuatanmu. Dan.. Ini.. Ayah akan memberi ini sebagai pelindung untukmu selama ada di bumi nanti”, jelas ayah panjang lebar.
“Bagaimana? Apa kau bisa?”, kata ayah sambil menyodorkan sebuah kalung berlian yang sangat cantik.
“ I-iya”, jawabku lalu mengambil kalung itu.


Esok Harinya...

                Hari ini adalah hari turunya aku ke bumi. Dengan cepat aku membereskan semua barang-barang yang sekiranya aku butuhkan selama berada di bumi. Satu per satu barang mulai kumasukkan ke dalam tas. Ketika membuka lemari, aku melihat sebuah album foto tua dan kamera kecil yang terselip diantara tumpukan baju. 

“Bagaimana dia sekarang?”, ucapku sambil menatap satu per satu foto yang terpasang disana. 

Selintas terlintas di benakku tentang kenangan-kenangan yang pernah kulalui di masa lalu. Kenangan yang tidak pernah kulupakan seumur hidupku.

“Luna? Kenapa lama sekali? Apa yang kau lakukan disini?”, ucap ayah membuyarkan lamunanku.
“Ah, tidak ayah. Aku hanya sedang membereskan semua barang-barangku”
“Apa? Barang-barang? Tidak! Tidak ada barang-barang yang boleh kau bawa ke bumi. Kau harus bertahan hidup dengan caramu sendiri!”
“Yaaa!!! Apaa? Haruskah ayah sekejam itu padaku?”
“Hmm.. Ini demi kebaikanmu”
“Apa? Kebaikan? Tidak! Ini penyiksaan ayah!”
“Terserah! Pokoknya mau tidak mau kau harus ikuti perintah ayah!”
“Yaaa!!! Tapi ayaaaah!!!!”
“Tidak ada tapi-tapian!”



*Flash back – End*


Hyaaaa!! Awas saja orang tua itu! Kalau ketemunanti akan kutendang bokongnya!

“Miaw.. Miaw..” Tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Dengan sedikit takut, aku berusaha menunduk.
“Kyaaaa!!! Pergi!!! Sana Pergi!!! Kau siapa?! Hewan apa itu yang punya rambut seperti itu?! Hiiii!!!!!”, kataku sambil menendang hewan terkutuk itu.
“Miaw..”, jawabnya sambil meringis kesakitan. 

Dengan menahan rasa sakit, hewan itu berlari meninggalkanku. Bagus! Hewan sepertimu seharusya enyah dari dunia ini! Beraninya dia menyentuhku! Huh!

“Pangeran Ryu, apa kita harus mencarinya kesana?” terdengar suara seorang laki-laki yang berhenti di belakangku.
Apa? Ryu? Dengan cepat aku menoleh ke belakang,berusaha untuk mencari pemilik nama tersebut.
“Ryu?”, kataku terkejut. Dengan berani aku mendekati pria berkuda putih tersebut.
“Yaaa!!! Siapa kau wanita jelek! Beraninya kau menyentuhku!”, ucapnya samba mendorongku menjauh darinya.
“Aku Sora. Kau masih mengingatku?”, kataku berusaha meyakinkan.
“Apa? Sora? Siapa kau! Jangan bermimpi jika aku harus mengingat orang sepertimu”

Ryu, apa kau benar-benar sudah lupa segalanya? Apa secepat ini kau melupakanku, Ryu? Oh iya, mana mungkin dia mengenaliku dengan penampilan seperti ini. Sepert kata ayah, siapapun termasuk Ryu tidak boleh tahu siapa aku.

“Benar, Ryu.. Tidak mungkin kau mengenali orang sepertiku”
“Apa? Ryu? Beraninya orang miskin sepertimu memanggilku Ryu. Panggil aku pangeran!”

Apa? Pangeran?  Apa benar dia Ryu yang pernah aku kenal? Bahkan dulu dia selalu memarahiku setiap kali aku memanggilnya Pangeran.

“Baiklah Pangeran. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa…” belum selesai aku berbicara, Ryu pergi meninggalkanku. Dengan cepat aku berlari menghentikannya.
“Hey! Minggir gadis buruk rupa! Beraninya kau menghalangi jalanku!”, teriak Ryu memarahiku.
“Sebentar saja. Ada yang harus kusampaikan padamu”
“Pengawal! Cepat bawa dia ke istana dan bunuh dia!”

Dengan cepat para pengawal itu mengikat tangan dan menutup mulutku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengelak, namun kekuatan para pengawal itu bisa mengalahkan kekuatanku.

@ Istana

“Aisss.. Sakit sekali..”, ringisku pada tangan-tanganku yang telah terikat oleh rantai. Tiba-tiba satang seorang wanita dengan wajah kesal berjalan ke arahku. Semua pengawal itupun memberi salam penghormatan padanya. Pasti dia Ratu di kerajaan ini. Pasti dia ibu Ryu. Tamatlah riwayatku…

“Pengawal?! Apa ini perbuatan Ryu lagi?!”, teriaknya pada salah satu pengawal di ruangan ini.
“Benar Yang Mulia. Gadis ini sudah berani bersikap lantang pada Pangeran Ryu. Dia pantas dihukum mati”
“Anak itu.. Dari dulu selalu bersikap seenaknya saja. Cepat lepaskan dia!”
“Tapi Yang Mulia..”
“Jangan membantah!”
“Ba-baik Yang Mulia”

Dengan cepat pengawal itu menurunkanku dan melepaskan semu rantai yang mengkati tanganku. 

“T-terimakasih Yang Mulia!”, kataku pada Yang Mulia Ratu.
“Tidak, justu akulah yang harus minta maaf karena kesewenangan yang telah anakku lakukan padamu”, ucapnya sambil memegang tanganku.
“Tidak Yang Mulia. Orang miskin sepertiku memang pantas dihukum”
“Hmm..  Kalau boleh tahu siapa namamu?”
“So-Sora”, ucapku gugup.
“Hmm.. Baiklah Sora, sebagai gantinya apa kau mau menjadi pelayan di istana ini?”

Pelayan? Yang benar saja! Bagaimana bisa Putri sepertiku menjadi seorang pelayan? Tapi.. Bukankah dengan menjadi pelayan di istana ini aku bisa terus melihat Ryu?

“Baiklah.. Terimakasih banyak Yang Mulia”, kataku sambil menunduk hormat.
“Sama-sama”, kata Yang Mulia sambil tersenyum.

Astaga… Aku seperti melihat sesosok malaikat sedang berdiri di depanku. Ibunya Ryu benar-benar baik, tidak seperti Ryu yang kejam padaku.


@ Dapur Istana

 “Sial”, gerutuku pada baju pelayan yang sedang kupakai. Yang benar saja aku harus memakai baju terkutuk ini? Selintas teringat di benakku tentang masa lalu saat aku masih berada di bulan. Dulu, aku sering bersikap seenaknya pada pelayan-pelatan sanpai-sampai aku tidak bisa menghitung sudah berapa pelayan yang kabur akibat dari perbuatanku.

“Hey! Pemalas! Enak saja kau duduk santai disini. Cepat sana bawa semua makanan ini!”, kata seorang wanita tua yang berdiri di depanku. Sepertinya dia kepala pelayan di istana ini.
“Siapa kau? Beraninya kau menyuruhku mengangkat semua makanan ini! Kau tak tahu siapa aku, hah?!”, ucapku kesal.
“Pelayan rendahan istana. Cepat bereskan semuanya, kalau tidak aku tidak akan memberimu jatah makanan hari ini!”

Apa? Demi mendapat jatah makanan semua pelayan harus bekerja seperti ini?

“Kruyuuuk”, tiba-tiba perutku memanggil, member isyarat agar segera diberi makanan.
“Ya ya.. Baiklah..”, ucapku terpaksa.

                Dengan hati-hati aku membawa semua makanan ke ruang aula istana. Terlihat banyak orang yang memadati ruangan ini. Sepertinya disini sedang ada jamuan makan. Dengan malu aku berusaha membereskan semua makanan secepat mungkin.


@ Taman
 
“Huh.. Akhirnya selesai juga”, ucapku sambil duduk di atas rerumputan. 
Aku ingat, jalan inilah yang pernah kulewati saat pertama kali aku datang kesini. Tiba-tiba tampak sepasang kaki sedang berdiri di depanku. Dengan wajah memelas, anak kecil itu meminta sepotong roti yang kugenggam sedari tadi. 

“Yaaa!!! Siapa kau?! Enak saja! Kau tahu berapa sulitnya aku mendapatkan sepotong roti ini?! Pergi sana! Dasar orang miskin!”, ucapku sambil mendorong anak kecil itu hingga jatuh tersugkur. Sambil menangis, anak kecil itu berlari pergi meninggalkanku. Dengan cepat aku menghabiskan rotiku lalu pergi meninggalkan tempat ini.



“Seperti dedaunan yang tidak pernah menyalahkan angin karena telah membuatnya terlepas daritangkainya”



                Semilir angin yang melintas di depanku, menghembuskan bau dedaunan yang membawa harum kerinduan. Selintas terbayang di benakku tentang rekaman masa lalu. Langit yang biru, kicauan burung, dan pepohonan hijau, semua terekam jelas di dalam memori otakku.

                Pandanganku terhenti pada sesuatu di depan sana. Pemandangan yang sangat menyakitkan bagiku. Ryu? Siapa dia? Kenapa dia yang harus duduk di sampingmu?

“Semua hilang, habis tak bersisa hanya karena satu orang”, ucapku dengan suara getar.
Dengan cepat aku berlari menghampiri Ryu.
“Ryu? Siapa dia?”, Tanya gadis itu pada Ryu.
“Tenang, Sena. Dia hanya pelayan rendahan. Hey! Berani-beraninya kau menggangguku! Cepat sana lakukan pekerjaanmu sendiri!”
“Maaf, Tuan. Tapi Anda diperintahkan untuk menemui Yang Mulia Ratu sekarang”
Astaga… Apa yang barusan aku katakana? Kenapa aku bisa memiliki keberanian seperti ini?
“Heeeh.. Ibu… Selalu saja.. Maaf ya Sena, aku harus pergi sekarang. Lain kali kita akan ngobrol lagi. Sampai jumpa! Aku pasti akan merindukanmu”, ucap Ryu dengan senyuman tulus.

Apa? Merindukan?
Hatiku terasa remuk, hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. 

“Ayo”, ucapku sambil mengepalkan tanganku.

** *
                Dengan cepat Ryu berjalan meninggalkan aku yang terdiam di belakangnya. Dari jauh aku aku hanya menantap punggung Ryu, berusaha untuk menyimpan semua kata-kata yang tersimpan di dalam hatiku.

“Ryu, apa kau benar-benar menyukai gadis itu?”, tanyaku penasaran.
“Tentu saja. Eh, apa katamu? Ryu? Beraninya kau!”, ucapnya sambil mengancungkan tangannya ke arahku.
“Ma-maaf Pangeran. Ta-tapi kenapa bisa kau menyukainya?”
“Itu bukan urusanmu!”, ucapnya kasar.
“Hmm..”, kataku sambil menghela napas, berusaha untuk menghapus semua kegelisahan di dalam hatiku.

@Istana

                Dengan langkah hati-hati aku menyusuri lorong istana. Tak lama kemudian Ryu dating menghampiriku. 

"Matilah aku”, ucapku dengan suara kecil.
“Hei pelayan! Mulai sekarang kau jadi pelayan pribadiku”
“P-pelayan pribadi? Apa Yang Mulia Ratu yangmengatakannya padamu?”
“Iya. Tapi kau harus ingat 3 hal. Jangan dekati aku, jangan menolongku, dan jangan menyentuhku. Mengerti?”
“B-baik Tuan”

Apa? Yang Mulia Ratu menyuruhku untuk menjadi pelayan pribadi Ryu? Bukankah Yang Mulia Ratu seharusnya marah karena kebohongan yang telah aku lakukan? Benar-benar aneh. Apa Yang Mulia Ratu benar-benar menyukaiku? Ah, aku tidak peduli. Yang penting dengan cara ini aku bisa lebih dekat dengan Ryu.



Esok harinya…

                Hari ini adalah waktunya Pangeran latihan memanah. Temapt ini memang bagus, tapi letaknya terpencil dan jauh dari istana. Letaknya tinggi di atas bukit.

                Dari jauh aku hanya memandangi Ryu dan Kak Kyu sedang asyik memanah. Astaga, Ryu terlihat sangat tampan dengan pengkat kepala dan baju panjang itu. 

“Hebat!”, seruku saat melihat busur yang ditembak Ryu berhasil menembus lingkaran tengah.
“Bagus, Ryu! Kau berkembang pesat”, puji kak Kyu.
“Hahaha… Terimakasih kak. Karena guru pemanahku adalah kak Kyu mangkanya ak bisa berkembang sampai sejauh ini”
“Hmm… Ryu? Bagaimana jamuan makan malammu dengan calon ayah mertuamu?”

Apa? Ayah mertua? Pasti itu ayahnya Sena.

“Begitulah kak… Aku benar-benar terkejut saat Jenderal Kyoto mengajakku untuk berlatih pedang bersamanya. Yang kita tahu, Jenderal adalah prajurit paling hebat senegeri bahkan sedunia ini kan?”
“Mmm.. Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahanmu dengan Sena?”
“Entahlah… Sepertinya akan aku lakukan dalam jangka waktu beberapa hari ini. Aku sudah tidak sabar untuk menjadikannya sebagai calon pendampingku. Aku benar-benar menantinya”
Apa? Pernikahan? Tidak bisa! Ryu tidak bisa menikah dengan Sena!
“Apa kau yakin, Ryu? Bagaimana jika Sena menolak lamaranmu?”, Tanya kak Kyu.
“Itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin menolak Pangeran sepertiku”
“Hmm… Terserah padamu saja.. Ayo kita kembali ke istana”
“Baik”

                Hmm.. Aku tidak tahu apakah benar hanya perasaanku yang salah, tapi dari yang kulihat sepertinya kak Kyu tidak senang saat mendengar kabar tentang pernikahan Ryu tadi. Ah! Masa bodoh! Entahlah, aku tidak peduli!



1 minggu kemudian…

                Hari ini adalah hari pernikahan Ryu dengan Sena. Rasa bahagia tergambar jelas diraut wajah Ryu. Sungguh menyayat hatiku. Bahkan aku tidak dapat melihat keindahan taman pagi ini. Semuanya gelap, tidak tergambar begitu jelas.

“Ryu, eh Pangeran. Sepertinya kau sangat senang?”, tanyaku dengan suara lemah.
“Tentu saja. Ini adalah hal yang aku impikan sejak dulu”, ucapnya sambil tersenyum.
“Apa kau begitu mencintainya?”
“Sangat. Bahkan dalamnya lautan tidak dapat mengukur cintaku”

Jleb. Hatiku terasa seperti tertusuk benda tajam. Ayah, aku tidak tahan dengan semua ini. Maafkan aku ayah…

“Ryu.. Sebenarnya aku..”

Tiba-tiba ada sebuah busur panah yang mengarah kepadaku. Dengan cepat Ryu menarikku padanya.

“Jleb” Busur itu menancap di bahu Ryu.
“Ryu.. Kau kenapa Ryu.. Bertahanlah Ryu”, teriakku saat aku melihat banyak darah yang berlumuran di bajunya. Tak lama kemudian Ryu pingsan tak sadarkan diri.
“Ryu!!! Tolong jangan pergi Ryu!!! Ryuuuu!!!”


Princess Moon Shoot 2 Part 1 - End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar